Judul : Ustadz yang Bodoh dan Kotor.
Suatu pagi di Gontor 7…….
Ketika itu….., pagi itu sangat lah dingin, menembus kemeja para
santri, sungguh awal yang indah bagi penghuni Riyadhatul Mujahidin (Lapangan
Perjuangan). Waktu menunjukan jam 6.45 pagi, dinginnya pagi pun hilang
beriringan masuknya para santri ke Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), di
karenakan panas tubuh setiap santri yang bersatu padu pada ruangan yang sangat
luas tersebut.
Semua santri dan asatidz sudah memasuki dan menduduki tempatnya
masing masing, suasana hening pun terjadi, bahkan lebih hening dari “Jarum
Jatuh” terdengar, semua menunggu instruksi pak Kyai untuk memulai acara
tersebut. Sang kyai akhirnya mengangkat tangannya dengan memberi isyarat untuk
memanggil salah satu Ustadz staff Pengasuhan Santri yang sedang berkeliling
merapihkan duduk para santri.
Mengetahui dirinya di panggil oleh pak kyai, maka berlari lari
kecil lah ustadz tersebut menghampiri pak kyai, setiba disana sang ustadz
langsung melakukan duduk diantara dua sujud di samping sofa pak kyai yang lebih
tinggi dari dirinya, dan mendengarkan seluruh instruksi pak kyai untuk acara
tersebut sebelum dimulai. Di panggung, 2 tokoh tersebut akhirnya menjadi pusat
perhatian seluruh audiens BPPM.
Terlihat dari jauh ustadz tersebut mengangguk nganggukan kepalanya
mendengar dengan sangat fokus dan terlihat dari gerakan bibirnya mengatakan
“nggeh pak kyai, nggeh….”, Di karenakan banyaknya instruksi pak kyai, dengan
reflek sang ustadz merogoh semua kantung jas dan celananya, mencari kuteb (Buku
catatan kecil)nya, akan tetapi kuteb tersebut tidak ada, kecuali hanya satu
pulpen bertuliskan “pilot” yang bersandar di dalam kantung kiri jas nya, mengetahui
hal tersebut maka di tulislah semua instruksi pak kyai di atas telapak tangan kirinya.
Setelah selesai mendengar dan menulis seluruh instruksi dari pak
Kyai maka turunlah, sang ustadz menuju operator dan berkata kepada pembawa
acara yang merupakan salah satu siswa akhir KMI (setara kelas 3 SMA) “Ibda’ al
barnamaj” (Mulailah acaranya), lalu menuju kembali ke tempat duduk para
asatidz.
Ustadz tersebut agak heran ketika dia menuju tempat duduk para
asatidz, karena memandangnya dengan sinis, setelah duduk di bangku, salah
seorang ustadz yang duduk di depannya memutar wajah ke arahnya dan berkata
“Ustadz antum nih, ustadz riayah (Pengasugan Santri) loh, harus nya haibah
(berwibawa), kok malah beler banget si, nulis di atas telapak tangan antum, kan
gak enak di lihat para santri, jorok keliatannya”.
Mendengar pernyataan tersebut, ustadz riayah tadi paham mengapa
para asatidz memandang dirinya dengan tatapan sinis, lalu dengan senyuman kecil
ustadz tersebut mengatakan “ya saya tau, terserah santri mau bilang saya
seperti apa, yang penting saya tidak lupa dengan semua INSTRUKSI PAK KYAI”.
Setelah mengetahui jawaban ustadz riayah , ustadz yang bertanya tadi tersenyum
juga dan berkata “Masuuk pak eko”
Judul :
Sebungkus Rokok, Dua Ustadz, Satu Ustadzah dan Malaikat Izrail
Mereka berdua
sedang menikmati senja, suatu keindahan yang merupakan ciptaanNya, salah satu
kegiatan matahari yang setiap hari dilakukan antara jam 5 sore hingga adzan
maghrib tiba, mereka selalu duduk di teras rumah sambil menikmati gurihnya dan
nikmatnya kopi toraja, yang baru saja di oseng-oseng oleh Ustadzah sareh, atau
istilah kerennya yang baru saja di roasting, dengan resep kopi andalannya, yang
tidak serumit barista kopi professional. Ustadzah sareh selalu membuat mereka
ketagihan akan kopinya, mereka tidak tau apa penyebabnya, entah karena bahannya
yang murni dari kopi Arabica toraja yang asli tanpa campuran sekalipun atau
karena resepnya yang masih di rahasiakan dari mereka.
Setiap santai di
sore hari. Ustadz Makmur dan ustadz Faiz
selalu mendiskusikan segala hal, entah apa saja permasalahannya dari politik,
madzhab, bid’ah, mitos, budaya, dll. Bahkan tak jarang mereka sampai berdebat
panas seperti di acara tv ILC (Indonesia Lawyers Club) dan melanjutkannya
setelah sholat isya. Hanya karena suatu argument yang harus di pertahankan,
hingga maut memisahkan. Ustadzah sareh, selaku istri ustadz faiz, hanya
menggeleng gelengkan kepalanya ketika melihat mereka berdebat.
Kala itu ustadz
Makmur sedang membaca buku biografi, yang menjelaskan seorang yang bernama
Lenin, salah satu dalang runtuhnya sistem pemerintahan monarki yang di pimpin
Tsar di Rusia lalu berdirinya negera Uni Soviet, dan penggagas sistem
Komunisme. Merupakan buku yang sangat menarik, apa lagi ketika menceritakan
perjuangan dia bersama Joseph Stalin, yang kelak akan menjadi presiden dari
Negara tersebut.
Ketika ustadz
Makmur tenggelam dalam suasana membacanya, ustadz faiz mengambil rokok
sampoernanya dan menawari ustadz Makmur sebatang rokok. Ketika itu ustadz
Makmur agak terheran heran, karena ustadz Faiz sudah tau kalau ustadz Makmur
bukan lah perokok dan baru kali ini ustadz Faiz menawari ustadz Makmur rokok,
setelah bertahun tahun kegiatan menikmati senja di teras rumah ustadz Faiz ini
mereka lakukan.
“nih rokok, mau
gak?” menatap ustadz Makmur. Ustadz Makmur terseyum, “maaf mas, tidak terima
kasih, dosaku masih banyak dan aku masih ingin hidup panjang untuk mengisi
tabungan amalku”. Ustadz Faiz tertawa “hahahaha, ya elah mur….mur…, hari gini
ngerokok masih takut akan kematian, eh mur dengerin nih…namanya kematian dan
jodoh itu sudah dituliskan di laul mahfudz 5000 tahun sebelum Nabi Adam AS di
ciptakan, malaikat izrail pun nanti sudah stand by saat tanggal itu juga, dan
mur inget gak salah satu perkataan mas tejo, apabila ada jomblo yang takut gak
dapet jodoh maka tanpa dia sadari dia sudah menghina takdir tuhan, sama seperti
kamu ini yang takut akan kematian hanya karena sebatang rokok!”.
“ooh seperti itu
ya…,” ungkap ustadz makmur dengan ekspresi sok kagum. “kalau begitu mungkin aku
gak usah belajar yang tekun aja ya mas?..., kan kesuksesanku sudah di tulis di
laul mahfudz, atau mungkin…. Aku gak usah Ibadah aja ya mas, bisa jadi di laul
mahfudz aku sudah di tuliskan akan menikmati indahnya surga ciptaan Allah”. Mendengar
peryataan tersebut ustadz faiz terdiam dia tau maksud dari kalimat ustadz
Makmur, dan tidak seperti biasanya yang akan langsung mematahkan argumentasi
adik kesayangannya.
Mengetahui ustadz
faiz terdiam, ustadz makmur mengambil sikap diam juga dan kembali membaca buku
biografi tadi. Ustadz faiz akhirnya menjatuhkan rokok tersebut lalu menangis
dalam diam, adiknya tidak menyadari kejadian tersebut Dan masih menikmati
kegiatan bacanya. Tapi tiba tiba “Mur….,” ustadz Faiz menatap makmur dengan
berlinang air mata. “iya mas.., loh kamu kenapa menangis mas?” Tanya ustadz
Makmur dengan kaget. “terima kasih mur..., terima kasih, aku sangat beruntung
Allah menjadikanmu adikku mur…, aku sangat bersyukur…,” ucapnya lirih.
Ustadz makmur menggengam tangan ustadz faiz
dan tersenyum. “aku lah yang seharusnya sangat bersyukur mas, karena diskusi
senja ini aku selalu memakai argument mu ketika berdiskusi dengan para santri”
Mereka berdua akhirnya tertawa.
Dari tadi mereka
berdua tidak menyadari kalau ustadzah Sareh menangis haru di balik daun pintu
ruang tamunya ustadz Faiz. Mengintip dan menyimak percakapan mereka berdua dari
tadi. Ustadzah Sareh menangis haru karena dua hal : pertama merasa beruntung
mempunyai seorang suami seperti ustadz Faiz
dan adik ipar seperti ustadz Makmur, kedua merasa bahagia karena
suaminya tidak akan melakukan rutinitas merokok lagi setelah sarapan pecel
buatannya bersama anak anaknya.
Judul : Ketika
Ustadz ditilang pak polisi
Acara Pagelaran
seni panggung gembira besok akan di mulai tapi masih ada satu barang langka
lagi yang belum terbeli, maka berkelilinglah ustadz Romi untuk mencari barang
langka tadi, dengan motor supra X kesayangannya dia berkeliling ke sudut sudut
kota ponorogo untuk mencari barang tersebut, satu per satu toko sudah
disinggahinya, tetapi tidak ada yang menjual barang tersebut.
Sudah tidak
menemukan, malah di jalan beliau ditilang polisi. Sempurna sudah penderitaan
ustadz Romi. Seperti biasanya, ketika seseorang terkena tilang, maka ia
ditanyai soal surat surat kendaraan bermotor oleh Pak Polisi, “mana surat-surat
nya?” Tanya Pak Polisi kepada Ustadz.
Tidak lama
kemudian, ustadz Romi pun mengecek saku bajunya, dan….”ini Pak, surat-suratnya”
kata Ustadz Romi tanpa berdosa sambil menunjukan sesuatu kepada Pak Polisi. Pak
Polisi pun bingung dan sedikit geli campur geram melihat ulah Ustadz Romi.
Sebab, yang dia berikan bukannya surat-surat bermotor, melainkan kitab kecil
berjudul “Majmu’ syarif”.
“Bapak ngerjain
saya ya? Emang siapa yang minta kitab itu?” Tanya Pak Polisi kepada Ustadz
Romi. “lho, kalau bapak Tanya soal surat-suratan, ya ada di kitab ini, pak. Di
dalam kitab ini ada Surat Yasin, Surat Waqi’ah, dan yang lainnya,” jawab pak
kyai dengan PD-nya. “maksudnya surat-surat motor,” kata Pak Polisi dengan geregetan.
Tapi ustadz romi
tetap saja menyodorkan kitab tersebut, karena memang di pondok ustadz romi,
sudah menjadi pemahaman umum bahwa apa yang di maksud “surat-suratan” adalah
surat-surat yang ada di dalam Al-Qur’an, yang diantaranya ada di dalam kitab
kecil Majmu’ Syarif.
Karena masih juga
tidak paham, akhirnya Pak Polisi bertanya kepada Ustadz Romi, “maksudnya SIM,
Pak! SIMnya mana?” Tanya Pak Polisi. “Oh….SIM, ini!”, kata Ustadz Romi sambil
menyerahkan SIM kepada Pak Polisi..
Pak polisi melihat
SIM tersebut sambil sekali-kali memandang wajah Ustadz Romi,lalu…., “kok, wajah
di SIM inin tidak sama dengan wajah bapak!” Tanya pak polisi. “iya pak, saya
pinjam teman sekamar saya,” jawab Ustadz Romi. Lagi-lagi tanpa merasa bersalah.
“Bapak ini gimana,
SIM kok pinjam? SIM itu harus punya sendiri,” kata pak polisi agak keras. Apa
jawab Ustadz Romi ? “lah temen saya yang punya SIM saja kagak marah SIM-nya
saya pinjam, kok malah Pak Polisi yang marah ?” tandas Ustadz Romi.
Menedengar jawaban
Ustadz Romi, Pak Polisi semakin pening kepalanya dan langsung bilang, “ya
sudah, ya sudah. Pergi sana! Pergi Sana! Bikin pusing orang”. Pulanglah Ustadz
Romi tanpa jadi ditilang. Sesampainya di pondok, ia pergi ke salah satu toko di samping pondok. Ternyata di toko itu
menjual barang yang selama ini dia cari cari di kota ponorogo.
“Di dekat pondok
aja ada, kenapa tadi saya harus berkeliling kota hanya untuk mencari benda
ini?” kata Ustadz Romi dalam hatinya.
Judul :
Nge-Prank Setan.
Siang
menjemput pagi, senja menjemput siang, malam menjemput senja. Matahari pelan
tapi pasti mulai meninggalkan desa itu, diikuti oleh cahaya merah yang kian
meredup bagaikan tetesan air yang mulai habis dari gelas yang retak.
Adzan
maghrib akhirnya berkumandang, terdengar suara yang tak asing lagi bagi
penduduk setempat “Allahu Akbar, Allah....huakbar” suaranya menyebar keseluruh
arah mata angin, seperti halnya api yang dinyalakan di tengah-tengah kertas.
Adam
yang saat itu sedang bermain bola, akhirnya mengakhiri permainan tersebut,
karena suara Adzan yang berkumandang, menggantikan peluit panjang yang
menandakan berakhirnya permainan sepak bola. Dengan tanggap dia mengamambil bola tersebut dan pergi ke rumah
tercintanya.
Sesampai
disana dia sudah melihat Ibu yang sedang memegang haduknya, pertanda bahwa
ketika dia menginjakkan kakinya di sana, sang ibu akan berkata “Adam..., ayo
langsung mandi, setelah itu pergi ke masjid, jangan sampe masbuk maghribnya
ya...”.
Di
masjid. Adam tidak terlambat, dia sholat dengan khusu bersama kawan kawan
sebayanya setelah itu dilanjutkan dengan mengaji dan diakhiri dengan kajian
hadist oleh Ustadz Abdurrahman dan
sholat isya secara berjamaah.
Ketika
pulang kerumah adam sudah di sambut oleh makanan lezat buatan ibunya, terdapat
ayam goreng, sayur asem dan tak lupa sambel terasi yang merupakan obat nafsu
makannya. Di meja makan seluruh anggota keluarga sudah lengkap, ayah yang duduk
di tengah, ibu di samping kanannya dan adiknya Nafi yang duduk di hadapan
ibunya, Adam sendiri duduk di samping Nafi.
“Alhamdulillah,
adam sudah pulang, ayo kita baca basmalah dan doa sebelum menikmati rezeki dari
Allah ini” ucap ayah dengan tersenyum. “Bissmillahirrahmanirrahim, Allohuma
bariklana fiima razaqtana waqina adzaban naar” ucap seluruh keluarga kecuali
Adam.
Dengan lahap Adam menyantap seluruh
makanan, yang kali ini beda adalah, Adam memperbanyak sambal terasinya dan
makan dengan kepedesan tapi berusaha menahannya agar tidak minum. Ketika minum
Adam akhirnya membaca basmalah, dan meneguknya dengan cepat.
Melihat tingkah anaknya yang aneh,
sang Ayah bertanya “Dam..., kamu kok aneh sekali malam ini, kenapa makan dengan
sambal yang begitu banyak, dan tidak mengucapkan Basmalah dan Doa sebelum
makan.
“ooh, tadi kata Ustadz Abdurrahman,
kalau kita tidak baca basmalah sebelum makan, maka setan akan ikut makan
bersama kita, dan kalau kita baca basmalah sebelum makan maka setan tidak akan
ikut makan dengan kita” kata adam serius. “makanya tadi Adam makan gak baca
basmalah dan makan dengan sambel yang sangat banyak agar setannya ikut makan
dan kepedesan juga, ayah..., nah pas mau minum baru Adam baca basmalah, biar
setannya gak ikut minum, jadinya dia bakal tetap kepedasan tanpa minum, dan
setannya nanti tersiksa dengan itu” ucap Adam.
Mendengar jawaban tersebut sang Ibu
yang sedang mengunyah dan menatap piring langsung menahan tawa dengan meletakan
telapak tangan kanannya di mulut, sedangkan sang ayah tertawa terbahak-bahak
mengetahui betapa polosnya anak tersebut.