Monday, December 24, 2018


Judul : Ustadz yang Bodoh dan Kotor.

Suatu pagi di Gontor 7…….

        Ketika itu….., pagi itu sangat lah dingin, menembus kemeja para santri, sungguh awal yang indah bagi penghuni Riyadhatul Mujahidin (Lapangan Perjuangan). Waktu menunjukan jam 6.45 pagi, dinginnya pagi pun hilang beriringan masuknya para santri ke Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), di karenakan panas tubuh setiap santri yang bersatu padu pada ruangan yang sangat luas tersebut.

          Semua santri dan asatidz sudah memasuki dan menduduki tempatnya masing masing, suasana hening pun terjadi, bahkan lebih hening dari “Jarum Jatuh” terdengar, semua menunggu instruksi pak Kyai untuk memulai acara tersebut. Sang kyai akhirnya mengangkat tangannya dengan memberi isyarat untuk memanggil salah satu Ustadz staff Pengasuhan Santri yang sedang berkeliling merapihkan duduk para santri.

Mengetahui dirinya di panggil oleh pak kyai, maka berlari lari kecil lah ustadz tersebut menghampiri pak kyai, setiba disana sang ustadz langsung melakukan duduk diantara dua sujud di samping sofa pak kyai yang lebih tinggi dari dirinya, dan mendengarkan seluruh instruksi pak kyai untuk acara tersebut sebelum dimulai. Di panggung, 2 tokoh tersebut akhirnya menjadi pusat perhatian seluruh audiens BPPM.

Terlihat dari jauh ustadz tersebut mengangguk nganggukan kepalanya mendengar dengan sangat fokus dan terlihat dari gerakan bibirnya mengatakan “nggeh pak kyai, nggeh….”, Di karenakan banyaknya instruksi pak kyai, dengan reflek sang ustadz merogoh semua kantung jas dan celananya, mencari kuteb (Buku catatan kecil)nya, akan tetapi kuteb tersebut tidak ada, kecuali hanya satu pulpen bertuliskan “pilot” yang bersandar di dalam kantung kiri jas nya, mengetahui hal tersebut maka di tulislah semua instruksi pak kyai di atas telapak tangan kirinya.

Setelah selesai mendengar dan menulis seluruh instruksi dari pak Kyai maka turunlah, sang ustadz menuju operator dan berkata kepada pembawa acara yang merupakan salah satu siswa akhir KMI (setara kelas 3 SMA) “Ibda’ al barnamaj” (Mulailah acaranya), lalu menuju kembali ke tempat duduk para asatidz.

Ustadz tersebut agak heran ketika dia menuju tempat duduk para asatidz, karena memandangnya dengan sinis, setelah duduk di bangku, salah seorang ustadz yang duduk di depannya memutar wajah ke arahnya dan berkata “Ustadz antum nih, ustadz riayah (Pengasugan Santri) loh, harus nya haibah (berwibawa), kok malah beler banget si, nulis di atas telapak tangan antum, kan gak enak di lihat para santri, jorok keliatannya”.

Mendengar pernyataan tersebut, ustadz riayah tadi paham mengapa para asatidz memandang dirinya dengan tatapan sinis, lalu dengan senyuman kecil ustadz tersebut mengatakan “ya saya tau, terserah santri mau bilang saya seperti apa, yang penting saya tidak lupa dengan semua INSTRUKSI PAK KYAI”. Setelah mengetahui jawaban ustadz riayah , ustadz yang bertanya tadi tersenyum juga dan berkata “Masuuk pak eko”

Judul : Sebungkus Rokok, Dua Ustadz, Satu Ustadzah dan Malaikat Izrail

            Mereka berdua sedang menikmati senja, suatu keindahan yang merupakan ciptaanNya, salah satu kegiatan matahari yang setiap hari dilakukan antara jam 5 sore hingga adzan maghrib tiba, mereka selalu duduk di teras rumah sambil menikmati gurihnya dan nikmatnya kopi toraja, yang baru saja di oseng-oseng oleh Ustadzah sareh, atau istilah kerennya yang baru saja di roasting, dengan resep kopi andalannya, yang tidak serumit barista kopi professional. Ustadzah sareh selalu membuat mereka ketagihan akan kopinya, mereka tidak tau apa penyebabnya, entah karena bahannya yang murni dari kopi Arabica toraja yang asli tanpa campuran sekalipun atau karena resepnya yang masih di rahasiakan dari mereka.

            Setiap santai di sore hari.  Ustadz Makmur dan ustadz Faiz selalu mendiskusikan segala hal, entah apa saja permasalahannya dari politik, madzhab, bid’ah, mitos, budaya, dll. Bahkan tak jarang mereka sampai berdebat panas seperti di acara tv ILC (Indonesia Lawyers Club) dan melanjutkannya setelah sholat isya. Hanya karena suatu argument yang harus di pertahankan, hingga maut memisahkan. Ustadzah sareh, selaku istri ustadz faiz, hanya menggeleng gelengkan kepalanya ketika melihat mereka berdebat.

            Kala itu ustadz Makmur sedang membaca buku biografi, yang menjelaskan seorang yang bernama Lenin, salah satu dalang runtuhnya sistem pemerintahan monarki yang di pimpin Tsar di Rusia lalu berdirinya negera Uni Soviet, dan penggagas sistem Komunisme. Merupakan buku yang sangat menarik, apa lagi ketika menceritakan perjuangan dia bersama Joseph Stalin, yang kelak akan menjadi presiden dari Negara tersebut.

            Ketika ustadz Makmur tenggelam dalam suasana membacanya, ustadz faiz mengambil rokok sampoernanya dan menawari ustadz Makmur sebatang rokok. Ketika itu ustadz Makmur agak terheran heran, karena ustadz Faiz sudah tau kalau ustadz Makmur bukan lah perokok dan baru kali ini ustadz Faiz menawari ustadz Makmur rokok, setelah bertahun tahun kegiatan menikmati senja di teras rumah ustadz Faiz ini mereka lakukan.

            “nih rokok, mau gak?” menatap ustadz Makmur. Ustadz Makmur terseyum, “maaf mas, tidak terima kasih, dosaku masih banyak dan aku masih ingin hidup panjang untuk mengisi tabungan amalku”. Ustadz Faiz tertawa “hahahaha, ya elah mur….mur…, hari gini ngerokok masih takut akan kematian, eh mur dengerin nih…namanya kematian dan jodoh itu sudah dituliskan di laul mahfudz 5000 tahun sebelum Nabi Adam AS di ciptakan, malaikat izrail pun nanti sudah stand by saat tanggal itu juga, dan mur inget gak salah satu perkataan mas tejo, apabila ada jomblo yang takut gak dapet jodoh maka tanpa dia sadari dia sudah menghina takdir tuhan, sama seperti kamu ini yang takut akan kematian hanya karena sebatang rokok!”.

            “ooh seperti itu ya…,” ungkap ustadz makmur dengan ekspresi sok kagum. “kalau begitu mungkin aku gak usah belajar yang tekun aja ya mas?..., kan kesuksesanku sudah di tulis di laul mahfudz, atau mungkin…. Aku gak usah Ibadah aja ya mas, bisa jadi di laul mahfudz aku sudah di tuliskan akan menikmati indahnya surga ciptaan Allah”. Mendengar peryataan tersebut ustadz faiz terdiam dia tau maksud dari kalimat ustadz Makmur, dan tidak seperti biasanya yang akan langsung mematahkan argumentasi adik kesayangannya.

            Mengetahui ustadz faiz terdiam, ustadz makmur mengambil sikap diam juga dan kembali membaca buku biografi tadi. Ustadz faiz akhirnya menjatuhkan rokok tersebut lalu menangis dalam diam, adiknya tidak menyadari kejadian tersebut Dan masih menikmati kegiatan bacanya. Tapi tiba tiba “Mur….,” ustadz Faiz menatap makmur dengan berlinang air mata. “iya mas.., loh kamu kenapa menangis mas?” Tanya ustadz Makmur dengan kaget. “terima kasih mur..., terima kasih, aku sangat beruntung Allah menjadikanmu adikku mur…, aku sangat bersyukur…,” ucapnya lirih.

             Ustadz makmur menggengam tangan ustadz faiz dan tersenyum. “aku lah yang seharusnya sangat bersyukur mas, karena diskusi senja ini aku selalu memakai argument mu ketika berdiskusi dengan para santri” Mereka berdua akhirnya tertawa.

            Dari tadi mereka berdua tidak menyadari kalau ustadzah Sareh menangis haru di balik daun pintu ruang tamunya ustadz Faiz. Mengintip dan menyimak percakapan mereka berdua dari tadi. Ustadzah Sareh menangis haru karena dua hal : pertama merasa beruntung mempunyai seorang suami seperti ustadz Faiz  dan adik ipar seperti ustadz Makmur, kedua merasa bahagia karena suaminya tidak akan melakukan rutinitas merokok lagi setelah sarapan pecel buatannya bersama anak anaknya.

Judul : Ketika Ustadz ditilang pak polisi

            Acara Pagelaran seni panggung gembira besok akan di mulai tapi masih ada satu barang langka lagi yang belum terbeli, maka berkelilinglah ustadz Romi untuk mencari barang langka tadi, dengan motor supra X kesayangannya dia berkeliling ke sudut sudut kota ponorogo untuk mencari barang tersebut, satu per satu toko sudah disinggahinya, tetapi tidak ada yang menjual barang tersebut.

            Sudah tidak menemukan, malah di jalan beliau ditilang polisi. Sempurna sudah penderitaan ustadz Romi. Seperti biasanya, ketika seseorang terkena tilang, maka ia ditanyai soal surat surat kendaraan bermotor oleh Pak Polisi, “mana surat-surat nya?” Tanya Pak Polisi kepada Ustadz.

            Tidak lama kemudian, ustadz Romi pun mengecek saku bajunya, dan….”ini Pak, surat-suratnya” kata Ustadz Romi tanpa berdosa sambil menunjukan sesuatu kepada Pak Polisi. Pak Polisi pun bingung dan sedikit geli campur geram melihat ulah Ustadz Romi. Sebab, yang dia berikan bukannya surat-surat bermotor, melainkan kitab kecil berjudul “Majmu’ syarif”.

            “Bapak ngerjain saya ya? Emang siapa yang minta kitab itu?” Tanya Pak Polisi kepada Ustadz Romi. “lho, kalau bapak Tanya soal surat-suratan, ya ada di kitab ini, pak. Di dalam kitab ini ada Surat Yasin, Surat Waqi’ah, dan yang lainnya,” jawab pak kyai dengan PD-nya. “maksudnya surat-surat motor,” kata Pak Polisi dengan geregetan.

            Tapi ustadz romi tetap saja menyodorkan kitab tersebut, karena memang di pondok ustadz romi, sudah menjadi pemahaman umum bahwa apa yang di maksud “surat-suratan” adalah surat-surat yang ada di dalam Al-Qur’an, yang diantaranya ada di dalam kitab kecil Majmu’ Syarif.

            Karena masih juga tidak paham, akhirnya Pak Polisi bertanya kepada Ustadz Romi, “maksudnya SIM, Pak! SIMnya mana?” Tanya Pak Polisi. “Oh….SIM, ini!”, kata Ustadz Romi sambil menyerahkan SIM kepada Pak Polisi..

            Pak polisi melihat SIM tersebut sambil sekali-kali memandang wajah Ustadz Romi,lalu…., “kok, wajah di SIM inin tidak sama dengan wajah bapak!” Tanya pak polisi. “iya pak, saya pinjam teman sekamar saya,” jawab Ustadz Romi. Lagi-lagi tanpa merasa bersalah.

            “Bapak ini gimana, SIM kok pinjam? SIM itu harus punya sendiri,” kata pak polisi agak keras. Apa jawab Ustadz Romi ? “lah temen saya yang punya SIM saja kagak marah SIM-nya saya pinjam, kok malah Pak Polisi yang marah ?” tandas Ustadz Romi.

            Menedengar jawaban Ustadz Romi, Pak Polisi semakin pening kepalanya dan langsung bilang, “ya sudah, ya sudah. Pergi sana! Pergi Sana! Bikin pusing orang”. Pulanglah Ustadz Romi tanpa jadi ditilang. Sesampainya di pondok, ia pergi ke salah satu  toko di samping pondok. Ternyata di toko itu menjual barang yang selama ini dia cari cari di kota ponorogo.

            “Di dekat pondok aja ada, kenapa tadi saya harus berkeliling kota hanya untuk mencari benda ini?” kata Ustadz Romi dalam hatinya.


Judul : Nge-Prank Setan.

                Siang menjemput pagi, senja menjemput siang, malam menjemput senja. Matahari pelan tapi pasti mulai meninggalkan desa itu, diikuti oleh cahaya merah yang kian meredup bagaikan tetesan air yang mulai habis dari gelas yang retak.

                Adzan maghrib akhirnya berkumandang, terdengar suara yang tak asing lagi bagi penduduk setempat “Allahu Akbar, Allah....huakbar” suaranya menyebar keseluruh arah mata angin, seperti halnya api yang dinyalakan di tengah-tengah kertas.

                Adam yang saat itu sedang bermain bola, akhirnya mengakhiri permainan tersebut, karena suara Adzan yang berkumandang, menggantikan peluit panjang yang menandakan berakhirnya permainan sepak bola. Dengan tanggap dia  mengamambil bola tersebut dan pergi ke rumah tercintanya.

                Sesampai disana dia sudah melihat Ibu yang sedang memegang haduknya, pertanda bahwa ketika dia menginjakkan kakinya di sana, sang ibu akan berkata “Adam..., ayo langsung mandi, setelah itu pergi ke masjid, jangan sampe masbuk maghribnya ya...”.

                Di masjid. Adam tidak terlambat, dia sholat dengan khusu bersama kawan kawan sebayanya setelah itu dilanjutkan dengan mengaji dan diakhiri dengan kajian hadist oleh Ustadz Abdurrahman dan sholat isya secara berjamaah.

                Ketika pulang kerumah adam sudah di sambut oleh makanan lezat buatan ibunya, terdapat ayam goreng, sayur asem dan tak lupa sambel terasi yang merupakan obat nafsu makannya. Di meja makan seluruh anggota keluarga sudah lengkap, ayah yang duduk di tengah, ibu di samping kanannya dan adiknya Nafi yang duduk di hadapan ibunya, Adam sendiri duduk di samping Nafi.

                “Alhamdulillah, adam sudah pulang, ayo kita baca basmalah dan doa sebelum menikmati rezeki dari Allah ini” ucap ayah dengan tersenyum. “Bissmillahirrahmanirrahim, Allohuma bariklana fiima razaqtana waqina adzaban naar” ucap seluruh keluarga kecuali Adam.

Dengan lahap Adam menyantap seluruh makanan, yang kali ini beda adalah, Adam memperbanyak sambal terasinya dan makan dengan kepedesan tapi berusaha menahannya agar tidak minum. Ketika minum Adam akhirnya membaca basmalah, dan meneguknya dengan cepat.

Melihat tingkah anaknya yang aneh, sang Ayah bertanya “Dam..., kamu kok aneh sekali malam ini, kenapa makan dengan sambal yang begitu banyak, dan tidak mengucapkan Basmalah dan Doa sebelum makan.

“ooh, tadi kata Ustadz Abdurrahman, kalau kita tidak baca basmalah sebelum makan, maka setan akan ikut makan bersama kita, dan kalau kita baca basmalah sebelum makan maka setan tidak akan ikut makan dengan kita” kata adam serius. “makanya tadi Adam makan gak baca basmalah dan makan dengan sambel yang sangat banyak agar setannya ikut makan dan kepedesan juga, ayah..., nah pas mau minum baru Adam baca basmalah, biar setannya gak ikut minum, jadinya dia bakal tetap kepedasan tanpa minum, dan setannya nanti tersiksa dengan itu” ucap Adam.


Mendengar jawaban tersebut sang Ibu yang sedang mengunyah dan menatap piring langsung menahan tawa dengan meletakan telapak tangan kanannya di mulut, sedangkan sang ayah tertawa terbahak-bahak mengetahui betapa polosnya anak tersebut.